Arti Persahabatan (Part 1)

04.28 0 Comments A+ a-



Malam telah larut, namun Ratna tak jua tertidur. Gadis 10 tahun itu tampak sedih, terlihat dari air matanya yang menganak sungai. Rambut hitam legamnya terurai berantakan. Pikirannya masih melayang pada sebuah percakapan tadi siang, antara dia dengan sahabatnya, Selly.
            “Rat, aku kepengen banget ikut lomba melukis kayak kamu,” ujar Selly, “Aku kepengen dapat hadiah sepeda keren itu,” tambahnya.
            “Ya udah, ikut aja, tinggal daftar aja kan?” Jawab Ratna
            “Tapi Rat, hadiahnya kan cuma satu, padahal kan kamu lebih pandai melukis daripada aku, ntar kalo kamu yang menang, aku nggak dapat apa-apa donk?!”
            “Belum tentu, kan belum nyoba?”
            “Tapi Rat, mm.. kamu mau nggak berkorban nggak ikut lomba ini demi sahabatmu?
“Hah?..eh, mm..,” Selly tak tau harus menjawab apa.
“Mau yaa? Bujuk Selly. “kamu kan sahabat yang baik, Rat, kamu nggak mungkin nolak permintaanku kan? Ratna, kamu kan sahabatku yang paling baik”.
Lama berpikir panjang. Selly tak sabar, “Ayolah, Rat!”
“Mm..iya deh”
Saat itu, Ratna tersenyum. Senyum yang dipaksakan untuk sahabatnya. Tetapi, malam ini ia menyadari bahwa ia sangat ingin mengikuti lomba itu, juga sangat ingin mendapatkan hadiahnya. Sebuah sepeda mini berwarna biru muda, warna kesukaannya. Namun, impiannya itu kini buyar, ia kubur dalam-dalam karena ia ingin menyenangkan hati sahabatnya. Pahit.
Isak tangis  Ratna terdengar oleh ibu, ia bergegas menuju kamar anak semata wayangnya.
“Kau kenapa, Nak?” Tanya ibu heran.
“Nggak apa-apa kok bu.”
“Jangan membohongi ibu, ibu tau kamu lagi ada masalah. Ceritalah pada ibu.”
“Bu, aku nggak jadi ikut lomba melukis.” Ucap Ratna, lirih.
“Hlo kenapa? Bukannya kamu udah lama menantikan event itu?”, Tanya ibu terheran-heran. Ia masih ingat kemarin anaknya membeli peralatan melukis untuk persiapan lomba ini. Masih terngiang semangat berlatih melukis anaknya, hari-hari kemarin. Ia tak mengerti mengapa anaknya berubah pikiran secepat itu. “Nggak usah minder nak, ibu yakin kamu bisa menang. Kamu punya bakat melukis, gambaran kamu kemarin bagus-bagus kok.” Kata Ibu berusaha meyakinkan.
“Bukan karena itu, bu.”
“Hla trus? Terus kenapa?” Ibu menatapnya dalam dengan  penuh tanda tanya.
Duh, tatapan itu, ia paling tidak suka membuat orang lain khawatir dengan keadaan dirinya, apalagi ibunya, orang yang berarti baginya. Ratna tak punya pilihan lain. Ia ceritakan percakapan tadi siang.
“Kamu salah, Nak” kata ibu segera setelah Ratna selesai bercerita. “kau tak seharusnya berkorban untuk orang lain dengan menampikkan kata hatimu. Itu berarti kau tak jujur dengan dirimu sendiri. Kamu akan menyesal nantinya, buktinya sekarang kamu nangis kan?
“Tapi, Bu, kalo aku ikut lomba, berarti aku bukan sahabat yang baik donk buat Selly.”
“Nggak, sayang. Hidup itu penuh pertarungan. Kadangkala kau harus berkompetisi dengan sahabatmu, itu wajar! Tetapi sahabat yang baik, ia tak rela membiarkan sahabatnya jatuh, ia akan membantunya bangkit, berjuang bersama. Dan ingat, kamu berkompetisi bukan untuk mengalahkan orang lain, tetapi justru untuk menaklukkan diri sendiri. Seperti dalam kompetisi lomba melukis kali ini. Berjuanglah untuk membuktikan kalau kamu memang jago melukis.
“Tapi nanti Selly bagaimana bu?
“Bicaralah baik-baik dengan dia. Berterus teranglah kalau kamu tak mungkin mengubur impianmu untuk tak mengikuti lomba melukis ini. Jujurlah padanya, “Ibu menambahkan, “Nak, apapun yang terjadi, ikuti kata hatimu, dan kalaupun ingin berkorban. Berkorbanlah dengan sepenuh hati, bukan setengah hati.”
Ratna mengangguk. Ia mengerti sekarang.
 bersambung...