Arti persahabatan (tamat)

01.54 0 Comments A+ a-



Mentari bersinar cerah, meski waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Event lomba melukis akan diadakan hari ini, pagi ini, di sekolahan tepat pukul sembilan.
Kriiing…Kring…
Bunyi Handphone Ratna berdering. Ratna bergegas mengangkat handphone, ternyata itu panggilan dari Selly.
“Wa’alaikumsallam. Ada apa Sell?”
“Aku boleh pinjem peralatan melukismu nggak Rat?”
“Maaf Sell, sebelumnya aku mau jujur sama kamu, hmm…aku tetap ikut lomba melukis. Itu impianku dari dulu, aku nggak bisa mengorbankannya demi kamu. Tetapi kalau kau mau meminjam peralatan melukis, aku pinjamkan. Kebetulan dua hari kemarin aku udah membeli peralatan melukis yang baru.
“Kok gitu sih? “ucap Selly kesal. “Oke kalau itu maumu, kita liat aja nanti, siapa yang bakal menang, aku nggak mau kalah! Oh ya untuk peralatan melukisnya, aku nggak jadi pinjem, aku beli sendiri aja! Assalamu’alaikum! Ucap Selly agak membentak.
~***~

Hari itu sekolah tampak meriah, para peserta lomba adalah anak-anak dari kelas 4 SD hingga kelas 6. Keikutsertaan dalam perlombaan ini tidak wajib, siapa yang berminat boleh ikut. Event lomba melukis kali ini di sponsori oleh media lokal, karena mendapat sponsor itulah hadiahnya cukup menarik. Perlombaan berlangsung selama satu setengah jam, cukup singkat untuk melukis. Ratna yang memang memiliki bakat alami melukis, tak risau dengan durasi waktu, ia sudah terlatih. Namun berbeda halnya dengan Selly. Ia tampak kesulitan, meski ia berusaha untuk tak pantang menyerah.
Satu setengah jam berlalu. Panitia lomba bergegas mengumpulkan karya anak-anak untuk dilakukan penjurian.
“Adik-adik, kami para juri sudah menyeleksi karya kalian. Secara keseluruhan karya kalian bagus semua. Namun, karena ini kompetisi, kami harus memilih satu karya terbaik diantara kalian. Dan pemenangnya adalah….
Semuanya tampak antusias, tak sabar menanti kiranya siapakah yang layak menjadi juara.
“Ratnaaa.. Humaira!” teriak panitia. Dan teriakan itu berlanjut dengan tepuk tangan meriah dari anak-anak yang lain.
Ratna bahagia, ia berhasil membuktikan bahwa ia jago melukis, sesuai dengan impiannya untuk menjadi seniman. Ia melangkah berani menuju ke atas panggung. Lalu, panitia lomba memberikan hadiah yang ia nantikan, sebuah sepeda.
~***~
Di sudut sekolah, seorang gadis manis sedang terdiam melamun. Ia tahu tak seharusnya ia bersedih. Sahabatnya berhak untuk mendapatkan kemenangannya itu, dia memang terlahir untuk menjadi seniman, pandai melukis. Apa yang salah? Namun, egonya membuat ia tidak terima. Ia iri dengan kelebihan yang dimiliki sahabatnya. Ia dalam hati mempertanyakan, mengapa aku tak seberuntung Ratna? Mengapa aku tak pandai melukis? Mengapa….argh sesak!
“Sell, kalau kau masih menginginkan sepeda itu, kau bisa pinjam kepadaku,” sebuah suara menyadarkan Selly.
“Tak perlu, udah nggak minat!” jawab Selly ketus.
“Kau masih marah padaku?”
“Nggak. Buat apa marah? Aku yang salah. Aku iri dengan kelebihan yang kau miliki.”
“Kau pikir, hanya kau saja yang berpikiran seperti itu. Aku juga pernah! Jujur, aku pernah iri padamu. Aku kagum dengan seorang gadis pemberani sepertimu, yang membuat hampir setiap anak takluk padamu.”
“Hah? Apa yang dikagumi? Aku punya karakter kayak gini emang karena lingkunganku. Orangtuaku keras dan disiplin. Aku anak bungsu dari ketiga bersaudara dimana semua kakak ku laki-laki. Jadi, wajarlah kalau aku bersikap kayak gini. Aku tak mengerti apa yang perlu dikagumi? bahkan terkadang, aku berani justru untuk mempertahankan diri juga untuk menutupi kekuranganku yang sejatinya tak memiliki apa-apa.
“Kau salah. Kau punya kelebihan, kau pemberani Sell.”
“Tapi tak pandai melukis.”ucap Selly seraya menatap Ratna, tajam.
“Apalah artinya melukis? Setiap orang punya potensi yang berbeda. Mungkin melukis bukan potensimu. Tetapi percayalah, kamu punya potensi yang mengagumkan. Kamu hanya perlu mengasahnya.”
“Iya, tetapi potensiku apa?”
“Ya itu tugasmu untuk mencari! Bukan keluar tapi ke dalam, kedalam hatimu. Bukan dengan membandingkan dirimu dengan orang lain, kau hanya perlu mengeksplorasi dirimu sendiri, mencari karunia terindah dari Tuhan yang ada di dalam dirimu. Suatu saat nanti kamu pasti akan tahu. Percayalah!” menatap penuh arti pada Selly. “Oh ya Ibuku kemarin bilang, Apapun yang terjadi, ikuti kata hatimu”
Selly mendesah. “Kau beruntung punya ibu yang bijaksana, Rat.”
“Tanpa kau sadari, kau juga beruntung punya ibu yang keras, Sell. Karena dari itu kau bisa punya karakter berani,” ucap Ratna, “Ayolah, Sell, jangan galau gitu ah. Mana Selly-ku yang nyebelin itu ya? Sumpah deh, kamu tambah nyebelin kalau galau gini”. Ucap Ratna sambil mencubit pinggang Selly. Tertawa.
“Iih,,apa-apaan nih cewek. Awas ya, aku balas kau!”Ucap Selly, galak.
Ratna berteriak dengan tersenyum menggoda, “Monsternya marah ….Kabuuur!” berlari menjauh dari Selly sambil menuntun sepeda.
“Dasar!” ucap Selly sambil memandang Ratna dari kejauhan. Sahabatnya itu memang selalu punya cara untuk membuatnya tersenyum kembali. Ia berkata lirih, “Tanpa kusadari, aku beruntung punya sahabat sepertimu, Rat.”