Cahaya Di atas Cahaya

01.43 0 Comments A+ a-

Kawan, pernah kau membayangkan bagaimana rasanya jika kau terlahir dengan kedua mata tidak berfungsi sama sekali alias buta??
@@@
Dulu, (aku lupa tanggal berapa?) aku dan teman-teman rohis diajakin mbak mentor kami untuk mengunjungi sebuah yayasan tuna netra di Jalan Parangtritis no.46 Yayasan itu bernama YAKETUNIS (yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam). Yayasan tersebut menampung sekitar 70 anak tuna netra dari segala usia mulai dari Anak SD hingga anak kuliahan. Saat itu karena waktu ngumpul untuk ketemuan di sekolah molooor lama banget dari yang dijanjikan, akhirnya kami disana (di yaketunis) cuma sebentar.Kami disambut oleh pengurus disana. Kami diajak ke ruang aula. Acara di awali dengan pembacaan tilawah lalu sambutan-sambutan (jauh dari bayangan, cz aku kira rencananya bakal informal gitu, dateng, trus ngobrol" dengan penghuni yayasan, ternyata salah duga). Setelah sambutan (nah ini yang ditunggu) sharing dari beberapa anak penghuni panti. Salah seorang penghuni panti (lagi-lagi aku lupa namanya, hehe, maaf, cz kunjungan ini dah lama banget sekitar 2 tahun yang lalu mungkin), dia bercerita bahwa umumnya anak yang tuna netra itu di-underestimate-in (diremehkan) karena memang secara fisik, berkekurangan. Oleh karena anak-anak disana merasa beruntung dengan adanya yayasan ini, mereka punya wadah untuk mengekspresikan dirinya. Ketika ditanya, bagaimana mereka berjalan atau melakukan apapun dengan penglihatan tertutup? mereka jawab, mereka punya semacam KEPEKAAN RASA yang tajam (semacam intuisi kalee) yang membuat mereka bisa mengenali dan membedakan berbagai hal. Sampai-sampai suara kaki berjalan si A, si B mereka hafal (dengan catatan sering bertemu). di Yayasan tersebut mereka diajari banyak hal mulai dari keterampilan tangan seperti menjahit, diajarin bermain musik seperti main gitar, dll. Dan katanya juga ada yang bisa main komputer (komputer khusus yang dirancang untuk tuna netra). Wow, masyaAllah itu "sesuatu" sekali. Yang membuat ku merasa kagum adalah mas-mas tuna netra yang lagi sharing tersebut, cara dia berbicara dengan khas humornya. Menertawakan kekurangannya, dia berkata (yang intinya)"Aku malah merasa bersyukur tidak bisa melihat, karena dengan itu aku bisa menjaga pandanganku, nggak jelalatan melihat cewek. Emang cewek cantik itu kayak gimana sih? (tanyanya, maklum kawan, dia buta sejak lahir, tidak tahu gambaran orang cantik itu seperti apa?). Dia mensyukuri apa adanya dia, dengan segala hal yang Allah anugerahkan padanya.
Aku gak bisa ngebayangin, gimana rasanya jadi mereka, melakukan segala sesuatu dengan KEGELAPAN ! Bayangkan Kawan, segala sesuatu disekitarmu GELAP. bayangin aja pas mati listrik di malam hari. Bagaimana kalau itu terjadi seumur hidup di dalam hidupmu? Allah, kalau itu terjadi padaku aku nggak tau bagaimana frustasinya diriku...Allah, terimakasih Kau memberiku sepasang bola mata yang istimewa ini

Sepucuk puisi ini kupersembahkan untuk mereka yang diberi cobaan oleh Allah dengan tidak berfungsinya penglihatan mereka. Semoga, mereka sabar dan tetap mensyukuri keadaan mereka apapun itu.

@@@

Cahaya Di Atas Cahaya

Cacat cela yang kau terima
tak buatmu patah arang
Kau simpan sendumu di serambi lain dalam kalbu
kau jadikan itu batu loncatan mengarungi hidup
buktikan pada dunia bahwa kau mampu
Kau istimewa dengan caramu sendiri

Sempat kubertanya, rindukah kau dengan cahaya?
Kau jawab lantang, Iya, tetapi aku bisa merasai lebih dari itu
cahaya di atas cahaya!
Cahaya Ilahi yang bersemayam dalam hati
Yang membuatku merasa bak melihat yang bahkan
penglihatanku tak berfungsi, namun aku rasa
kepekaan jiwa yang mungkin belum kau dapati

 Kau kadang terisak di ujung asamu
mengapa duniaku gulita?
Tak ada warna sekalipun! bahkan hitam putih? tak ada!
semua hitam, semua gelap
Kau sering dengar warna pelangi itu mejikuhibiniu, beragam!
Tetapi apa bedanya? Kau tak tahu beda merah dengan jingga, bahkan seperti apa warna merah?

Kau tahu kawan?
Jika malam telah larut dan seketika listrik padam
seisi rumah panik mencari lilin, mana cahaya, mana?
tetapi kau, kau yang sudah terbiasa dengan kegelapan
malah bertanya seperti apa itu cahaya?
tak terdeskripsikan!

Kawan, kau berujar padaku
bahwa aku beruntung, sungguh beruntung!
sepasang bola mata indah itu teramat istimewa bagi kalian
kau siap membayar mahal apapun untuk memiliki itu
namun, takdir sudah menjadi suratan
tiada kuasa kalian menentang takdirNya

Kawan, sepatah kataku di ujung jalan
bukan kata perpisahan karena ku masih ingin berjumpa denganmu suatu saat
terimakasih sudah mengajarkanku apa arti bersyukur
bahwa secacat-cacatnya aku, masih ada orang yang jauh lebih berkekurangan dibanding diriku
bahwa meski mataku rabun, itu jauh lebih baik, dibanding tak mampu melihat sama sekali
pula terimakasih mengajariku tentang cahayaNya, cahaya di atas cahaya


@@@

"Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
-Surah An-Nur ayat 35-