Menjemput cintaNya (part 1)

01.57 0 Comments A+ a-




“Akhi, pernah nggak jatuh cinta sama seorang akhwat?” tanyaku pada seorang Ikhwan bernama Ridwan. Ikhwan yang begitu tangguh, militan dalam berdakwah. Ikhwan yang kukagumi.

“ya pernahlah akhi, jatuh hati dengan lawan jenis itu fitrah. Wajar.  Setiap orang pasti pernah merasakan itu. Bahkan, Allah berfirman dalam qur’an surah Ali-Imran ayat 14, Dijadikan indah pada (Pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, iaitu Wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (syurga)”.
Tetapi akhi, ayat diatas bukan berarti pembenaran bahwa kita boleh membiarkan begitu saja “perasaan” itu, Segala sesuatu itu tetap harus ada batasnya. Allah berfirman dalam surat yang lain,  At-Taubah ayat 24, Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak,saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.

“Tapi wan, mengendalikan “perasaan” itu susah banget. Gimana donk?”

“Ya emang. Aku juga pernah merasakan apa yang kamu rasakan. Kepikiran “dia” terus, tidur nggak nyaman. Gelisah. Terkadang sebal dengan perasaan yang tidak menentu. Tetapi coba deh kita mikir pake logika. Buat apa mikirin seseorang yang belum tentu dia juga mikiran kamu. Buat apa menyimpan perasaan kepada seseorang yang belum tentu dia juga memiliki perasaan yang sama denganmu. Buang-buang waktu, akhi. Btw, pernah nggak sih kita mikirin perasaannya Allah. Bukannya lancang, tetapi coba deh sesekali mikir. Kita tuh hidup di Bumi Allah. Diberi nyawa oleh Allah. Dikasih kesempatan oleh Allah untuk hidup. Dan buanyak lagi karunia dari Allah yang entah sadar atau tidak kita sadari. Eh, kitanya malah sibuk memikirkan “yang lain”. Sibuk memikirkan si dia, bukan Dia. Inget akhi, Allah Maha Pencemburu.”

Yeah. Benar kata akh Ridwan, Allah Maha Pencemburu. Ia sangat tidak ingin kecintaan seorang hamba kepada makhluknya yang lain mengalahkan kecintaan yang seharusnya hanya ditujukan padaNya. Astaghfirulallah….kemana saja saya selama ini, tak pernah sekalipun terpikir oleh saya seorang hamba yang lemah ini tentang Allah yang Maha pencemburu????

Pernahkah saya menangis karena Muhasabah Cinta saya Pada Allah Warohman Nurrohim..??? yang dulu sering membuat saya menangis ketika menulis muhasabah cinta pada seorang akhwat yang kini hanya menjadi tiada, hanya menjadi luka, hingga kepada Allah saya lupa…. 

.Astaghfirullah…Astaghfirullahh…Astaghfirullah….

Saya benar-benar malu terutama pada Allah..bagaimana bisa saya menempatkan Allah pada urutan kesekian terutama soal Cinta??? ….


Bersambung...