menjemput cintaNya (part 4)

05.49 0 Comments A+ a-



Kira-kira  perjalanan selama lima belas menit, kami sudah sampai di tempat tujuan yaitu Masjid Kampus UGM. Masjid Kampus UGM yang terletak di kompleks Universitas Gajah Mada ini merupakan Masjid kampus terbesar se-Asia Tenggara. Masjid yang menjadi kebanggaan khususnya oleh seluruh civitas akademika UGM ini memiliki berbagai keistimewaan. Selain terletak pada wilayah yang luas, bangunan Masjid ini memiliki keindahan arsitektur yang menonjol dan megah. Kawasan masjid ini dahulunya adalah kuburan Cina, maka tak heran apabila gaya arsitekturnya berwarna merah muda dan emas khas warna etnis tionghoa.

Ridwan memakirkan motornya di parkiran bawah sebelah timur. Angin sejuk semilir menyambut kedatangan kami. Yeah, di parkiran masjid ini banyak terdapat pepohonan rindang. Jadi, tak heran apabila suasananya begitu sejuk. Sebuah tangga berundak-undak, berwarna merah, mengantarkan kami ke ruang utama Masjid yang terletak di atas. Sebuah gapura melengkung dari beton berdiri megah di ujung tangga. Di depan Gapura, terdapat sebuah air mancur, juga tulisan berlafaz Allah melengkapi keindahan masjid. Kami berjalan beriringan menuju bangunan utama.

Sesaat aku mengangkat tangan kiri dan melirik jam tangan yang berada di pergelangan tangan kiriku.
“Wan, masih kurang lima belas menit lagi nih, sholat dhuha dulu yuk. Moga-moga aja bisa mengundang rezeki.” Ujarku, aku teringat akan sebuah hadis Rasul yang menjelaskan tentang fadhilah shalat dhuha yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dan At-Tabrani. Rasulullah Saw. bersabda, “Allah berfirman, ‘Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas melakukan shalat empat rakaat pada pagi hari, yaitu shalat Dhuha, niscaya nanti akan Kucukupi kebutuhanmu hingga sore harinya.’
“Heh, akhi, kok malah ngelamun sih. Ayo ke tempat wudhu! Ucap Ridwan tiba-tiba sambil menarik lenganku.
 ***
Selesai wudhu kami berjalan menuju bangunan utama, melewati taman rumput. Rerumputan hijau tumbuh subur di taman ini, tak lupa pohon palem raja dan damar turut mewarnai taman. Taman yang sungguh indah terawat rapi.
"Ssst..wan, itu bukannya ukhti Aisyah ya? Lihat deh muslimah yang pake jilbab biru itu?", Kata Ridwan menunjuk ke arah kolam air mancur di sebelah selatan. Yup, dia benar itu Aisyah. Gadis itu memakai jilbab biru dan gamis dengan warna senada. Sungguh, dia tampak cantik! Ya Allah, jagalah perasaanku. Aisyah datang bersama sahabatnya Isna. Kuakui saat ini, jantungku berdegup kencang. Getaran itu kembali terasa dibumbui bunga-bunga harapan cinta semu.

“Cantik ya dit, shalihah lagi.”ujar Ridwan sembari menatapnya.

“E ciee, kena virus merah jambu nih ye, bukannya kemaren antum yang nyeramahin ane tentang itu? Kok sekarang jadi antum yang kena sih?" tandasku.

“oh iya Astagfirullahal’adzim.” Ridwan khilaf dan menunduk lesu. Ternyata dia memiliki perasaan yang sama denganku. Ah, nggak kebayang, jika aku dan Ridwan berkompetisi merebutkan hatinya Aisyah. Duh, mengapa jadi memikirkan itu lagi? Nggak!

"Udah capcus yuk, keburu dimulai acaranya." giliran aku yang menarik lengannya. Dan saat kami berjalan melewati rumput, Aisyah melihat kami dan berjalan menghampiri.

"Assalamu'alaikum, Adit" sapa Aisyah sembari tersenyum.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh. Eh Aisyah, kebetulan ketemu disini! Jawabku, basa-basi. Kebetulan aku sudah melihatmu disitu dari tadi.

"Dit, katanya kamu punya bisnis ya? Bisnis apa?

“Iya, bisnis teh daun sukun. Alhamdulillah minggu lalu, proposal bisnisku diterima DIKTI. Dapet dana dari sana. Kamu mau lihat brosurnya?! Bentar aku ambil dulu!" ucapku nerocos tanpa jeda karena menahan gugup. Getaran itu masih terasa meski sudah berusaha menghijabi hati. Aku mengambil brosur di dalam tas. Dan menyodorkan brosur itu padanya. "Nih"

Aisyah tersenyum manis sembari menolak pemberian brosur dariku, "Adit, aku sudah melihat brosurnya kok dari Irma, teman sekelasmu itu, "ucapnya tenang sambil tersenyum."Aku boleh nggak daftar jadi reseller produkmu. Aku pengen nyoba berwirausaha, kayaknya asyik deh. Apalagi bisa nambah uang jajan, hehe, lumayan kan." ucap Aisyah dengan riangnya.

"Boleh kok, oke nanti kalau produknya sudah tak siapkan, aku sms kamu, nanti kamu ambil ya di rumahku, sekalian daftar jadi reseller."

"Sekalian ketemu calon mertua juga", Ridwan menimpali. Duh Ridwan, jangan bikin aku malu donk. Kulihat Aisyah tersipu, pipinya bersemu merah.
Oh, dear Allah, jaga hatiku
Bersambung

***^^_^^***
Intermezzo. sekilas Iklan. hehe. Ini bisnis yang tengah dirintis saudara sepupu saya, mas Tono. Bisnis teh daun sukun. Untuk teman-teman pembaca yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang teh daun sukun ini, bisa klik website ini. dan order bisa melalui saya: Hanifah 085743018445