Misteri Buku Yang Hilang (part 1)

10:34 PM 0 Comments A+ a-




5 tahun yang lalu…

Sesosok gadis berjilbab ungu menghentikan motornya tepat di sebuah taman bacaan di pinggir jalan Jogja-Solo. Ia memarkirkan motornya di depan taman bacaan tersebut. Lalu melepas helmnya dan berjalan masuk ke ruang taman bacaan. Taman bacaan itu tak terlalu besar, kira-kira luasnya 3*4 meter. Taman bacaan yang kecil nan mungil. Meski begitu, taman bacaan ini memiliki berbagai jenis buku, mulai dari novel, teenlit, komik dan tak hanya itu saja, DVD dan CD juga tersedia disitu.

Gadis itu sedang asyik mengamati buku-buku yang tersusun rapi di dalam rak yang berjenjang. Sesekali gadis itu menarik buku dalam rak, membaca sinopsis buku yang terletak di cover belakang buku secara sekilas, lalu menaruh buku itu kembali di tempatnya semula. Itu dilakukannya berkali-kali sampai Mbak-mbak penjaga taman bacaan merasa bosan menunggui. Karena pada saat itu, si Gadis adalah satu-satunya pengunjung taman bacaan tersebut.

Kira-kira setengah jam berlalu, si Gadis memutuskan untuk meminjam dua buah buku. Buku pertama adalah buku motivasi tentang perjuangan hidup. Sedangkan buku kedua adalah buku non fiksi islami tentang cara bagaimana menjadi wanita shalihah yang dicemburui bidadari syurga. Buku-buku itu diserahkan kepada si Mbak penjaga taman bacaan tersebut. Si gadis diharuskan membayar delapan ribu rupiah  beserta kartu pelajar sebagai jaminan atas peminjaman buku tersebut dan harus dikembalikan setelah lima hari. Sesaat gadis berjilbab itu merasa ada yang aneh. Dia berfikir, Kok mahal banget ya? Namun gadis itu menghiraukan kata hatinya. Ia memutuskan untuk tetap meminjam buku itu. Setelah membayar, gadis itu berjalan keluar ruangan sambil menenteng kantong kresek berwarna hitam yang berisi buku-buku yang dipinjamnya. Ia menghampiri motor astrea hijaunya. Mencantolkan tas kresek pada cantolan motor di bawah stang.
 ***
Dalam perjalanan pulang kira-kira satu meter sebelum sampai di rumahnya, ia melirik tas kresek dalam cantolan motor itu sesaat. Dan hilang! Nihil! Gadis itu terkejut.  Tak ada barang apapun yang tercantol disitu. Ia sungguh tak menyangka, mengapa tas kresek itu bisa hilang? Aneh sekali. Ia ingat betul tadi ia sudah mengaitkan tas kresek itu pada cantolan motor. Mengapa bisa hilang tiba-tiba? Gadis itu menghentikan motornya di pinggir jalan. Ia mengingat-ingat lagi kejadian tadi, mulai dari meminjam buku, keluar dari taman bacaan, ah rasanya tak mungkin kalau buku itu tertinggal di taman bacaan. Tak mungkin, begitu pikirnya. Atau mungkin terjatuh di jalan? Tanpa berpikir panjang, gadit itu berbalik arah menyusuri jalan yang telah dilaluinya. Ia mengamati kanan-kiri jalan yang dilaluinya. Bahkan, bertanya pada seorang pemungut sampah yang kebetulan berada di pinggir jalan. Tetapi sial, nasib tak berpihak padanya. Hasilnya tetap nihil. Buku itu tak ketemu! Namun, Ia tak mau menyerah, ia susuri jalan itu dua kali. Bolak-balik. Ia tak peduli dengan bensin yang tinggal sedikit pada motornya. Tak peduli! Namun, lagi-lagi tak ketemu.

Gadis itu tampak lesu, pikirannya kacau, ia tak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi, ia menyesali, mengapa ia ceroboh, tak hati-hati dan mengapa pula ia tak mengikuti kata hatinya? bukankah dia pernah  membaca buku ESQ dari Ary Ginanjar yang mengatakan bahwa suara hati adalah suara Tuhan yang membisikkan kebaikan/kebenaran di dalam hatimu. (So, ikuti kata hatimu…)
Ah, sekarang tak ada gunanya menyesali diri, pikirnya lagi. Menyesali diri itu tak memperbaiki keadaan. Yang dibutuhkan ia saat itu adalah solusi. Solusi atas permasalahannya. Ia berpikir, bagaimana kalau diabaikan saja masalahnya, ia lari atas permasalahan tersebut, toh nggak ada ruginya kan, cuma ninggal kartu pelajar yang mana sudah tak digunakan lagi. Namun, ia berfikir lagi, itu tindakan orang yang tidak bertanggung jawab. Walau bagaimanapun ia harus mengganti buku yang hilang. Ia bimbang. Buku-buku itu kemungkinan harganya mahal, kemungkinan pula uang seratus ribunya akan melayang sebagai ganti rugi. Ia ragu. 

Setelah beberapa menit, Gadis itu memantapkan hati untuk kembali mengunjungi taman bacaan. Ia sudah siap untuk membayar ganti rugi berapapun asal ia tidak dihantui rasa bersalah atas kecerobohannya menghilangkan buku itu.
Sesampainya disana, ia menceritakan permasalahannya kepada si Mbak penjaga taman bacaan. Setelah mendengarkan curahan hati dari si Gadis, Si Mbak itu permisi sebentar sambil masuk ke dalam sebuah ruangan. Sayup-sayup gadis berjilbab itu mendengar bahwa si Mbak tengah bercakap-cakap dengan salah seorang temannya.
Beberapa menit kemudian si Mbak itu keluar, ia berkata pada gadis berjilbab itu untuk membayar ganti rugi atas dua buah buku yang hilang. Harga barang sudah ditetapkan oleh mbaknya dan tidak ada tawar-menawar. Telak! apa mau dikata, gadis bejilbab itu mengeluarkan selembar uang berwarna merah dan menyerahkan uang tersebut kepadanya.

Bersambung…