Rahasia si Bejo (Tamat)

03.53 0 Comments A+ a-

Siang ini seperti biasa, aku menghabiskan waktu bersama anak jalanan lainnya untuk mengamen. Tidak seperti Bejo yang mengamen di pertigaan jalan, aku dan beberapa kawan lebih memilih untuk mengamen dari rumah ke rumah. Ah Bejo, lagi-lagi kuteringat dia. Sobat karibku yang sungguh beruntung. Aku heran, tuah apa yang dia punya? Dia seperti memiliki magnet yang menarik keajaiban-keajaiban tangan-tangan Tuhan.
***
Ketika aku berjalan pulang melewati bantaran kali code, seseorang menarik lenganku dengan agak kasar dari belakang. Dan ketika ku menoleh, aku terkejut,  ya ampun aku tak percaya, Sungguh! Si Bejo ada di depan mataku.
Bejo! Ya ampun Jo, kamu toh, tak kirain siapa. Pangling1 aku  Jo, sama kamu. Gimana kabarmu?”
Alhamdulillah, apik. Hla kowe piye, san? Kangen aku karo kowe!”2, Serunya seraya memelukku, hangat. Pelukan seorang sahabat lama. “Nengdi bocah-bocah liyane?3
Bocah-bocah isih ngamen koyo biasane. Jo, mbok kamu cerita. Kok kamu bisa seperti ini? Hidupmu berubah sekarang. Kamu yang dulunya pengamen jalanan kayak kita, eh sekarang sudah jadi penyanyi terkenal. Punya rumah mewah, mobil, bisa sekolah. Hebat kamu Jo! Rahasianya apa toh? Kenapa kamu bisa se-beruntung ini?
“Hahaha. Beruntung?
“Hlo..kok malah ketawa? Gimana sih Jo. Aku serius nih. Aku juga pingin kayak kamu. Sopo sih sing gelem uripe nelangsa terus4. Masak dari dulu sampe sekarang jadi pengamen terus. Aku juga pingin bisa mengubah kondisi ekonomi keluargaku.” Sahutku ketus. Diajak serius eh yang diajak ngobrol malah dikira bercanda, siapa yang nggak sebel coba?!
Bejo menghela nafas. Tawanya tertahan. Mimik mukanya berubah seketika. Memasang wajah sok serius mirip Almarhum simbahku, mbah Wiro. “Hasan, ngrungakake simbah ngendika, nggih”. Sekarang tutur katanya juga menirukan gaya simbahku berbicara. Persis gaya bicara  mbah Wiro yang biasanya ngasih wejangan.”Hidup itu harus pandai bersyukur. Itu kunci sukses keberuntunganku. Mensyukuri semua karunia Allah, sekecil apapun itu. Jujur, sebenarnya aku tak pernah merasa kalau aku memiliki tuah atau keberuntungan, aku hanya berfikir kalau Allah Maha Baik. Tuhan itu baik banget padaku. Apapun yang aku alami, aku mencoba melihat sisi positif takdir Tuhan. Kalau aku ditimpa musibah, itu berarti Tuhan sedang mengujiku, kayak ujian-ujian disekolah gitu, Ihsan. Itu artinya aku mau naik kelas. Makanya aku berdoa lebih rajin, memperbaiki usaha lebih keras ketika ditimpa musibah dan Alhamdulillah aku merasa Allah lebih banyak memberiku karunia lagi, bahkan jauh lebih banyak dari sebelumnya.”
Slide film otakku memutar memori sesaat. Yeah, Bejo benar. Dulu aku sering melihatnya pergi ke masjid lebih rajin ketika hasil ngamennya tak sebanyak hari-hari biasa. Kulihatnya bersimpuh dihadapan Sang Khaliq. Hla aku? Kalau lagi sial ngamen, malah ngeluh, muring-muring5 dirumah.
“Ada lagi rahasia yang lain, san. Dengerin ya, ini penting! Ingat…ingat, Jadilah orang yang suka menolong dan banyak memberi. Anjurannya di al-qur’an sudah ada qur’an surat saba’ ayat 39 yang artinya: Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah pasti akan menggantinya dan DIA-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” Dengar baik-baik. Disitu Allah berfirman Allah pasti akan membalas pemberian kita. Itu artinya Tuhan sudah berjanji. Dan Dia sungguh pasti menepati Janji. Kowe percaya to san?! Hanya saja cara-cara Tuhan untuk membalas pemberian kita itu yang terkadang tidak kita mengerti. Tuhan itu Maha Kreatif. Bisa jadi Dia akan menghindarkan kita dari segala macam bencana, musibah, kecelakaan, penyakit atau gangguan kesehatan lainnya yang menghabiskan harta. Bisa jadi Dia akan mengangkat kesedihan, kedukaan dan kedepresian dalam hidup kita sehingga kita tidak perlu mengeluarkan uang untuk membayar biaya konseling psikiater yang mahal. Bisa jadi, ah banyak banget keajaiban-keajaiban Tuhan yang tanpa disadari muncul sebagai balasan pemberian atau sedekah kita. Kamu paham?
Aku manggut-manggut. Nggih mbah!


1 Pangling (basa Jawa) artinya seperti tidak mengenal lagi
2 Alhamdulillah baik, kalau kamu, san? Kangen aku sama kamu
3 Dimana anak-anak lainnya?
4 siapa yang mau hidupnya sengsara terus?
5 marah-marah