sepotong cerita

5:13 AM 0 Comments A+ a-



Yogyakarta, Juni 2003
Sesosok gadis berambut ikal terurai menghambur masuk ke dalam kelas dengan tergopoh-gopoh.“Ka, aku dapat kabar bagus, dari kelas sebelah. Ya ampun ka, ini berita paling keren, yang pernah gue denger selama gue sekolah disini! “ Kata-kata itu menerjang gendang telinga Ika, menerocos tanpa ampun. Ika, gadis cantik yang diajak bicara oleh gadis berambut ikal itu hanya menatap sahabatnya, datar dan berkata tenang,” “Kabar apaan sih? Plis deh Ran, nggak usah selebay itu!” 

Rani menatap Ika dongkol. “Lebay apaan, kamu belum tau aja, coba kalau kamu udah tahu. Kamu pasti bakal bersikap lebih heboh dariku,” ucap Rani membela diri. Ia tak mau kalah. “Sini aku kasih tahu”, Rani menarik lengan Ika secara paksa. Menyeretnya keluar kelas. Ika masih tak mengerti dan cuek tak mau tahu. Bukankah sahabatnya itu tipe cewek yang kerap membesar-besarkan masalah. Memang ada kabar bagus apa sih? Mungkin aja kan cuma kabar yang biasa-biasa saja, tetapi karena emang karakter Rani yang lebay. Ia menanggapi berita itu dengan heboh, pikir Ika. Ika berjalan mengikuti langkah Rani sambil menatap wajah Rani, heran.

“Tuh liat ke depan, di depan ruang tata usaha itu, kamu lihat nggak?” Rani menujuk seorang pemuda yang berada di depan ruang tata usaha. Pemuda dan seorang pria dewasa tengah berbincang-bincang dengan salah seorang karyawan Tata Usaha.

Ika menatap orang yang ditunjuk Rani. Terpana, baru pertama kali ini dia melihatnya. Seorang pemuda berwajah putih rupawan, bertubuh jangkung dan ramping. 

“Dia siapa Ran? Ya ampuun Ran, dia ganteng bangeeeet mirip actor korea Jang Geun Seok!’ ika terbuai menatap wajah tampan pemuda itu. Giliran Rani yang menatap sahabatnya dengan kening berkerut
“Tuh kan, kamu lebih lebai daripada aku.” Rani mendengus kesal.

Ika tak peduli dengan pernyataan Rani. Ia tak mampu menguasai diri dari rasa penasarannya. Siapa pemuda itu? Maka, Ika menghampiri si pemuda itu, lalu diikuti pula oleh Rani.
“Hai, boleh kenalan nggak? Nama kamu siapa?” Ujar Ika sambil menyodorkan tangan kanan sembari tersenyum mengembang.

Pemuda berwajah tampan itu memutar punggungnya, ia berdiri berhadapan dengan Ika. “Oh, iya boleh, aku Yusuf, anak baru, pindahan dari Bandung. Kamu siapa?” jawab lelaki itu dengan tersenyum ramah namun ia hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dada, yang secara halus memiliki arti menolak berjabat tangan dengan Ika.

Ika tersenyum kecut dan menarik tangannya kembali. Ia kecewa! Baru kali ini ada pemuda yang menolak berjabat tangan dengannya. Hey, apa kamu tak tahu, aku ini primadona di sekolah ini, teriak Ika di dalam hati. Namun, tentu saja, Ika dengan cepat menguasai diri. Dia sudah terlatih untuk bersikap anggun. Ia mencoba tersenyum semanis mungkin. Berharap pemuda itu bisa terpikat dengan senyum indahnya.

Ika adalah seorang gadis berusia empat belas tahun. Sama seperti Rani. Mereka teman sekelas juga satu sekolahan. Mereka bersekolah di SMP N 5 Yogyakarta yang berlokasi di daerah kotabaru. Ika, jika dilihat sepintas, orang akan mengira dia adalah gadis blasteran. Rambutnya yang agak pirang. Kulit wajahnya yang putih, hidung mancung, bibir tipis merah merona. Namun, siapa sangka dia tidak memiliki garis keturunan bule, sekalipun. Beruntunglah ia memiliki wajah secantik itu.

Yusuf mengakui Ika memang cantik. Ia tak mau menafikkan bahwa ia bisa saja jatuh hati padanya, bahkan mungkin sejak pandangan pertama. Tetapi apakah cinta semudah itu?Ia menggelengkan kepala untuk menjernihkan pikiran.