tiga lini

5:38 AM 0 Comments A+ a-

Lembayung senja datang membayang
menorehkan tiga lini mozaik kehidupan
sesosok berjubah hitam bak dementor
datang menghadap menghampiri fulanah
terjadilah dialog antara mereka

(de) mentor :
hey, kau, pilih salah satu dari tiga lini yang kubawa ini pilih mana? (tegasnya dengan sorot mata lembut)
fulanah:


kenapa harus aku? (tanyanya merintih)
 (de) mentor :
karena kau orang terpilih, kau tahu, dibalik amanah yang kau emban nanti
Dia sudah sediakan untuk kau ganjaran yang nilainnya jauh lebih tinggi dari langit dan bumi
fulanah:
tetapi aku takut aku tak sanggup?
 (de) mentor : 
kau mau atau tidak?!
 fulanah:
mau, tapii
  (de) mentor : 
percayalah, ini adalah sesuatu yang baik
 fulanah:
iya aku tahu, hatiku pun tak menafikan bahwa ini kebenaran. tetapi aku ragu?
  (de) mentor : 
الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ
[Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.]
fulanah:
aku masih sering bermaksiat apa aku pantas mengemban amanah ini?
  (de) mentor :  itu pertanyaan klasik. banyak orang yang berfikir seperti itu. banyak yang ingin berjilbab tetapi tidak dilakukan dengan alasan, ingin menjilbabi hati dahulu. Berdalih, aku belum pantas berjilbab, kelakuanku masih jauh dari kata baik, nanti malah mencoreng kebaikan itu sendiri? aku tak tahu apa maksudnya? tetapi pernyataannya salah, bukan masalah pantas atau tidak pantas, tetapi MAU ATAU TIDAK? padahal yang namanya kebaikan itu memang butuh proses dan itu wajar. tanya pada hatimu, kau mau atau tidak? jawab dengan sejujur-jujurnya
 fulanah:
 aku mau tetapi belum siap
  (de) mentor : 
kau bisa belajar dari sekarang. learning by doing. mau berdalih apa lagi kau? lagipula kau belum jawab pertanyaanku yang pertama
 fulanah:
apa?
  (de) mentor : 
tiga lini. pilih mana? haroki, tarbawi, atau jamahiri
 fulanah:
jamahiri aja deh, tekadku belum sempurna. Masih ada orang lain yang jauh lebih layak dariku.
  (de) mentor : 
kau lupa? dalam hal kebaikan diwajibkan berlomba-lomba. Apakah kau rela mempersilahkan orang lain meraih Firdaus sementara kau harus tinggal di 'Adn. Tanya pada hatimu!
 fulanah:
NGGAK..T.T
  (de) mentor : 
sebenarnya setiap lini memiliki kesempatan untuk meraih firdaus. Hanya saja menurutku kau lebih cocok masuk tarbawi. Amanah-amanah yang kau emban nantinya Insyaallah akan membawamu menuju apa yang kau inginkan sesuai JanjiNya
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka adalah Surga Firdaus menjadi tempat tinggal. (Al-Kahfi, 18:107)

dementor lenyap begitu saja
ia terbang menuju nirwana
meninggalkan fulanah dalam dilema
hingga di titik kulminasi kesadaran
kobaran asanya mulai mengembang