it's not easy to be me

4:36 AM 0 Comments A+ a-



Dibawah ini adalah sampah dari uneg-uneg yang berasal dari relung sanubari. Tolong untuk pembaca yang tidak "selo" harap meninggalkan page ini sebelum benar-benar muak mendegar ocehan seorang remaja akhwat labil :D
                Teriakan hari kemenangan telah usai, beberapa hari yang lalu. Ramadhan telah berganti menjadi syawal. Namun, entah mengapa aku merasa keadaanku tidak lebih baik. Ya Allah, ajari aku bersyukur. Aku berusaha untuk menjadi muslimah sholihah karena-Mu. Faktanya, sampai sekarang aku merasa munafik. Benar-benar munafik. Sholat seperti hanya menjadi rutinitas tanpa makna.(Allah, aku rindu kedekatan denganMu). Beberapa hari gak liqo/mentoring, beberapa hari setelah meninggalkan ramadhan, beberapa hari nggak ada kajian/denger/baca buku keislaman, beberapa hari nggak ngaji tahsin bareng mbak Erma, AKU FUTUR! Sudah diambang batas keimanan. Kian hari semakin melankolis, air mata berderai tiada ujung, menangisi kealpaan diri yang justru malah memperparah keadaan. Ya Allah, tak bisakah aku bermetamorfosa menjadi muslimah tangguh?
                Aku bermimpi, berharap, berusaha untuk menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain. Nyatanya? Aku belum bisa membanggakan ketiga orangtuaku. Yang ada, aku masih saja menjadi bulan-bulanan kemarahan ayahku karena kecerobohan dan tindak-tandukku yang tak sesuai keinginan ayah. Aku ingin menjadi kakak yang baik untuk adik-adikku. Nyatanya? Ya Allah, tak ada respek darinya, yang ada adalah cekcok perbedaan pendapat yang tidak seirama. Pun menjadi tetangga/kerabat yang baik, aduh jauuh sekali. Allah, apa dosaku terlalu banyak?
                Aku berusaha berdiri meski terkadang rapuh. Aku tautkan harapan pada Dia, Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Berharap Dia bakal memberiku energy motivasi super power yang membuatku BETAH BERTAHAN hidup untuk terus melakukan perubahan, perbaikan diri. Bahwa aku berhak, masih diberi kesempatan mengecap kebahagian berada dalam drama kehidupan bernama dunia ini. Dan setidaknya Sang Sutradara kehidupan berbaik hati untuk memberiku peran yg pada akhirny bakal happi ending di SurgaNya (ngarep bgt!)
                Aku seorang akhwat labil yang berusaha untuk menjadi muslimah dewasa, meski capek dan frustasi mendera. Yang paling susah itu adalah memotivasi diri sendiri untuk mencintai diri sendiri. Apalagi untuk akhwat yang krisis kelebihan dan kepercayaan diri kayak aku. Aku dah berusaha untuk bersikap baik, nyatanya masih aja ada orang lain yang menganggapku remeh. Aku, Antara ada dan tiada. Keberadaanku seolah-olah tak ada artinya sama sekali.
                Alhamdulillah, dari semua yang Allah titipkan padaku, diantara nikmat fisik, harta, keluarga, dsb. Satu-satunya yang paling bisa kubanggakan adalah iman. Aku tak berkeinginan menggadaikan nikmat ini dengan apapun didunia ini meski tanggungjawabnya besar. Yeah, bagi muslim yang sudah tahu ilmunya dia harus berdakwah dan mengamalkan itu dalam segala lini kehidupan sehari-hari. Jangan kira itu gampang. Apalagi menghadapi penyakit hati seperti riya’ dan syirik. Terkadang ngerasa aneh sendiri, mendeklarasikan diri beriman tetapi sifat masih kekanak-kanakan? Masih butuh pujian, ingin diperhatikan. Padahal Allah lebih menyukai mukmin yang kuat dan mandiri. Ngerasa malu sendiri, ngaku beriman tetapi masih maksiat dan nggak tegas merubah keadaan. Apa-apaan, Hanif! Come On!
                Sekali lagi, aku hanyalah akhwat yang masih harus banyak belajar! Gak gampang berusaha untuk menjadi muslimah sholihah yang ikhlas karena Allah SWT, bahkan gak gampang untuk hanya sekedar jadi diri sendiri. Bersikap sesuai kehendak hati yang benar-benar dari hati. Jujur mengekspresikan diri tanpa ada yang ditutupi. Bebas melakukan apapun yang aku mau tanpa dibebani situasi dan kondisi. It is not easy to be me!