Sebelum Aku Mati

06.58 0 Comments A+ a-



Kesannya horror banget yak, kalo udah ngomongin tentang kematian. Meski itu adalah sesuatu hal yang pasti dan suka atau tidak semua orang pasti akan mengalami. Malam Jum’at minggu ini, mbak Anisyah mahasiswi jurusan pendidikan biologi uny angkatan 2010, meninggal. Memang aku belum mengenalnya pun belum pernah berjumpa, tetapi melihat profil beliau di surat kabar progress terbitan forum dakwah UNY, aku menyimpulkan bahwa beliau muslimah tangguh nan sholihah. Semoga beliau dipanggil ke haribaanNya, karena Allah SWT memang sudah kangeen untuk berjumpa dengan beliau.
Kematian. Aku tak tahu kapan aku mati? Kapan dipanggil Allah? Pun tak mau berharap itu terjadi sekarang. Tanya kenapa? Jelas karena aku masih terlalu malu untuk bertemu Allah sekarang. Bertemu di saat amalan kebaikanku masih sedikit. Saat aku masih bersifat kekanak-kanakan dan belum bisa mengambil hikmah kehidupan. Saan aku terlalu kecut untuk menyuarakan dakwah di hadapan banyak orang, gentar. Saat aku menafikkan diriku sendiri dan terlalu naïf untuk menaklukan diri sendiri. Saat aku....Gimana aku nggak malu???
Tetapi memang aku tak tahu apa-apa tentang kematian. Meskipun aku tak siap, kematian itu datang sekarang, aku tak bisa menolak takdir Allah. Tak ada yang bisa menjamin seseorang pasti mati di usia tua. You can see? Di paragraph pertama sudah aku ceritakan seorang muslimah aktivis dakwah yang usianya MASIH MUDA sudah dipanggil Allah. Sepenuhnya hal ini rahasia illahi.
Sebelum aku mati, aku ingin menorehkan kenangan. Kenangan kebaikan yang aku ingin. Sesuatu yang bisa menjadi amal jariyahku kelak di akhirat. Yang akan terus mengalirkan pahala, meski aku sudah tiada. Aku ingin menjadi muslimah yang menginspirasi banyak orang. Menjadi inspirasi orang lain untuk kembali ke jalan yang hanif, menjadi petunjuk/penebar kebaikan untuk orang-orang disekitarku. Hanya ingin menjadi berarti, bahwa keberadaanku memberikan manfaat untuk orang lain. Meski aku bukan apa-apa, bukan sesiapa. 

Hanya ingin menjadi berarti.