Hidayah itu dari Allah

6:10 AM 0 Comments A+ a-




لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنْفُسِكُمْ ۚ وَمَا تُنْفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).
(Al Baqarah 272)

Hikmah dari ayat ini diantaranya adalah;

#Hidayah itu datangnya dari Allah, seberapa keras kita berusaha untuk berdakwah kepada seseorang namun Allah tidak menghendaki orang tersebut mendapat hidayah islam, ya nggak bakal terwujud. Contohnya seperti yang terjadi pada pamannya Rasulullah yaitu Abu thalib. Rasulullah telah berusaha keras untuk mengajak paman yang amat disayanginya itu untuk memeluk islam namun apa daya, meski beliau seorang Rasul, walau bagaimanapun hidayah tetap milik Allah, maka karena Allah tidak menghendaki Abu Thalib masuk islam, ya pada akhirnya Abu Thalib tetap memeluk agama nenek moyangnya hingga akhir hayat.

#Amalan seseorang itu adalah apa yang kita berikan bukan apa yang kita dapatkan. Seringkali kita berpikir (termasuk penulis sendiri :p), "apa sih yang kita dapatkan?" tetapi hanya segelintir orang yang berpikir dan ber.orientasi "apa yang bisa aku berikan?". Inilah penyakit "takut kehilangan (zona nyaman)" yang membuat kita jadi enggan berbagi, dan banyaknya korupsi yang terjadi di negeri ini. Ya karena itu tadi, ingin mendapatkan sesuatu yang lebih dan takut kehilangan sesuatu yang dimiliki. Padahal melalui ayat tersebut telah dijelaskan bahwa amalan itu adalah apa yang sudah kita berikan, dan apa saja sesuatu (dalam hal ini harta) yang kita berikan atau kita infaqkan pada akhirnya pahala dari amalan tersebut untuk kita sendiri. Ada pahala besar yang dinanti dan Allah tidak akan membuat kita merasa rugi dengan apa yang telah kita infaqkan.