Mutiara Quran : Ujian

05.37 0 Comments A+ a-

Cerita dari temenku yang dulunya pernah mondok di pesantren, dia punya temen yang melanjutkan kuliah di Yaman. Dia cerita kalo temennya yang kuliah di Yaman itu hampir setiap minggu ujian, pokoknya sering banget deh ujiannya dan tugas-tugas kayak kalo misalnya kita disuruh bikin makalah itu gak ada. So, yang aku garisbawahi disini adalah ujian di luar negeri dan di Indonesia yang menurut opiniku ikut mempengaruhi mindset pelajar/mahasiswa kita.
Jadi gini, adanya ujian yang dilakukan hampir setiap pekan itu akan membuat mahasiswanya terbiasa dengan ujian dan menjadikan ujian itu sebagai proses bukan akhir atau tujuan pencapaian. Dan dengan adanya ujian dengan model seperti itu kita justru jadi tahu perkembangan ilmu kita itu sudah sejauh mana?? Dan tentu saja kalo kayak gini kita bakal lebih bisa meminimalisir “mencontek” karena akan ada mindset, buat apa nyontek, toh pekan depan juga masih ada ujian lagi, dan lagi, toh ujian bukan standarisasi, dan tujuan pencapaian.Trus juga kalau aku nyontek, aku malah gaktahu pemahaman ilmuku sudah nyampe mana?? Ujian setiap pekan seperti ini juga membuat kita merasa “gagal” adalah sesuatu hal yang biasa, bukan momok yang menakutkan toh ujian kan diadakan berkali-kali, kalaupun gagal masih ada ujian di pekan depan. Secara gak langsung ini menjadikan mahasiswa di negara tersbut terbiasa dengan istilah gagal, bukan untuk ditakuti.
Namun sayangnya, model ujian di negeri kita nggak seperti itu. Ujian di Indonesia dilaksanakan di akhir sebelum kelulusan (secara nasional). So mindset kita? Karena Ujian Cuma sekali selama kita berada di masing-masing jenjang sekolah, so Ujian menjadi sebuah tujuan pencapaian atau akhir dari proses belajar. Walhasil, segala cara ditempuh untuk mendapatkan nilai yang bagus. Segala cara gak peduli meskipun itu mencontek! Makanya gak heran kalau contek-mencontek itu sudah menjadi budaya yang lazim di masyarakat kita khususnya di kalangan pelajar. Karena ya itu tadi model ujiannya mendukung untuk melalukan penyimpangan itu. Dan tujuan bersekolah atau berkuliah pun bergeser dari yang awalnya mencari ilmu menjadi mencari nilai dan gak peduli pemahaman ilmunya sudah sejauh mana, yang penting nilai di ijazah or rapot bagus. Juga mindset, Gagal ujian itu harus dihindari karena ujian yang Cuma sekali dan ini menjadikan pelajar kita jadi takut gagal, takut melarat. Makanya nggak heran juga banyak korupsi akibat mindset takut gagal dan budaya menyimpang mencontek ini.
Itu di dalam sekolah lalu bagaimana dengan universitas kehidupan? Yeah, realitanya ujian kehidupan itu gak Cuma sekali, tapi setiap hari, pasti ada aja ujian atau masalah yang ada di dalam kehidupan kita, nggak mungkin banget ada manusia yang nggak dikasih ujian sama Tuhan. Ujian nggak melulu yang terlihat negatif lho ujian yang positif juga ada, misal dapet rejeki nomplok. Ujian dari itu ya, dianya bakal bersyukur atau malah kufur nikmat dengan rejeki yang dia dapatkan???
So, ujian kehidupan adalah bagian dari proses, bukan akhir. Ujian kehidupan pun akan selalu ada karena kehidupan ini adalah kompetisi untuk menjadi yang terbaik dihadapanNya.
 
 
 
إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.
(QS: Al-Kahfi Ayat: 7)