Resensi Buku "Buanglah Pacar Pada Tempatnya"

4:23 AM 0 Comments A+ a-




Judul Buku      : Buanglah Pacar Pada Tempatnya
Penulis             : Afifah Afra, Asri Istiqomah, dkk
Penerbit           : INDIVA
Tahun Terbit    : Cetakan Pertama, Rabi’ul Akhir 1433 H/ Maret 2013
Tebal Buku      : 176 halaman

Pacaran islami, emang ada?! Banyak muslim-muslimah yang masih terjerumus dengan pergaulan yang mendekati zina. Bahasa umumnya “pacaran”. Bahkan tak jarang, yang mengaku menjadi aktivis dakwah pun masih terjerat dengan hal tersebut, biasanya adalah mereka yang belum bisa mengendalikan nafsunya.
Memang tak bisa dipungkiri bahwasanya “virus-virus merah jambu” atau “perasaan tertarik kepada lawan jenis” adalah sesuatu hal yang sulit untuk dikendalikan, namun bukan lantas itu menghalalkan pacaran. Karena bagaimanapun pacaran adalah sesuatu hal yang menjurus kepada perzinaan.
Telah banyak buku-buku islami yang membahas tentang hal ini. Akan tetapi berkaca pada pergaulan remaja Indonesia saat ini yang semakin bebas dengan adanya “gempuran” budaya barat yang merasuk melalui berbagai media, membuat generasi muda kita menjadi tertekan dan tak sedikit yang terbawa arus. Mulai muncul aliran-aliran dan pemahaman baru yang terkadang itu justru merusak gaya hidup remaja kita. Contoh kecilnya, ada istilah pacaran islami. Menurut para pendukungnya, pacaran itu gakpapa asalkan secara islami, gak pake pegang-pegangan tangan, gak bersentuhan, dan lain-lain. Mereka membungkus aktivitas pacaran tersebut dengan label islami, tetapi apakah hal itu dibenarkan?
Para penulis buku ini dengan tegas mengatakan seperti yang terdapat di dalam judul buku ini, Buanglah pacar pada tempatnya. Yeah, begitulah kita sebagai seorang muslim semestinya bersikap, tegas untuk hal-hal yang sudah melanggar syariat seperti ini. Pacaran, pun telah diberi label islami, tak bisa menampik bahwa aktivitas tersebut membuka pintu-pintu fitnah yang bisa menjerumus kepada perzinaan. Na’udzubillah...
Hebatnya para penulis buku ini menceritakan bab demi bab dalam bahasa yang komunikatif dan meremaja sehingga membuat pembaca tak merasa bosan untuk membacanya hingga akhir. Bahasa yang digunakan adalah bahasa gaul yang sering dipakai para remaja kita saat ini meski ada beberapa kata yang “alay”, tapi itulah daya tariknya. Karena memang kita dianjurkan oleh Sang nabi, untuk berdakwah dengan bahasa kaum yang kita dakwahi atau objek dakwah. Dan para penulis buku ini sudah menerapkan hal tersebut dengan baik.