Resensi Buku "Jalan Cinta Para Pejuang"

6:48 PM 0 Comments A+ a-




Judul Buku      : Jalan Cinta Para Pejuang
Penulis             : Salim A. Fillah
Penerbit           : Pro-U Media
Tahun Terbit    : Juni 2010 (Cetakan ke-4)
Tebal Buku      : 344 halaman

Jangan ngaku aktivis dakwah kalau belum membaca buku ini, Jalan Cinta Para Pejuang! Sebuah buku yang menyadarkan kita mengenai hakikat cinta dan untuk menjadi tuan atas kata cinta itu sendiri. Karena cinta adalah kata kerja. Karena hakikat cinta sesungguhnya adalah perkara “mencintai” bukan hanya sekedar perasaan ingin “dicintai”. Inilah jalan cinta para pejuang. Kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta padaNya, pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki: selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai.
Buku ini adalah buku keenam yang ditulis oleh ustadz Salim A.Fillah. Salim A. Fillah dikenal sebagai penulis yang piawai memadukan dalil dengan kisah, norma dengan hikmah dan membingkainya dengan nuansa sastra yang indah. Buku terbaik yang membicarakan cinta dalam bahasa cinta. Buku yang mengajak kita menelisik makna sejati cinta sebagaimana dihayati para pejuang. Cinta yang diterjemahkan sebagai kata kerja. Cinta yg ditaklukkan, bukan justru kita yang takluk oleh cinta (atau hawa nafsu yang mengatasnamakan cinta).
Cinta adalah fitrah. Akan tetapi cinta bukanlah gejolak hati yang datang sendiri dengan melihat paras ayu atau wajah tampan. Miris rasanya melihat para aktivis dakwah masih ada yang terjebak fenomena virus merah jambu. Harusnya ketika perasaan itu datang, sebisa mungkin dikendalikan, jangan malah dimanjakan. Sebab, di jalan cinta para pejuang, kita bertanggung jawab atas perasaan kita.
Inilah jalan cinta para pejuang, cinta yang mengobarkan semangat jihad di bawah panji islam. Cinta yang mampu mengubah pecundang menjadi pahlawan, cinta yang mengubah sosok pemuda yang lembek menjadi seorang yang gagah dan berani menatap masa depannya. Inilah jalan cinta para pejuang. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian atau pengorbanan. Mencintai tak harus memiliki, karena memang sejatinya kita tak pernah memiliki apapun di dunia ini, semua kepunyaan Allah. Mencintai berarti pengorbanan untuk orang yang kita cintai. Cinta yang memberi. cinta yang berlandaskan asas kokoh dengan niat, gairah dan kebersihan nurani.
Selamat datang di jalan cinta para pejuang. Cinta agung yang sulit ditemukan di dalam realita kehidupan saat ini. Akan tetapi kisah-kisah cinta para ksatria islam terdahulu, para sahabat Nabi, di dalam buku ini akan menyadarkan kita bahwa cinta agung itu pernah ada. Ketika cinta kepada Dia, sang Maha Cinta adalah segalanya. Lalu cinta kepada Rasulullah adalah juga bentuk ketaatan, meloncati rasa suka dan tidak suka. Hingga kita tersadar bahwa mencintai mahluk-Nya hanyalah pengejawantahan dari cinta kepada Nya. Rasa cinta tersebut tidak boleh melebihi rasa cinta kita kepada Allah. Karena kita adalah para pejuang, maka taklukan cinta itu kawan, bersama di sini, di jalan cinta para pejuang.