Resensi Buku "Memungut Amalan Recehan"

4:25 AM 0 Comments A+ a-





Judul Buku      : Memungut Amalan recehan
Penulis             : Fahrudin Ghozy
Penerbit           : Safirah (Kelompok Penerbit DivaPress)
Tahun Terbit    : Agustus 2012
Tebal Buku      : 261 halaman

Apakah kita merasa diri ini sudah layak masuk surga, sehingga meremehkan kebaikan-kebaikan yang sifatnya sepele? Kebaikan-kebaikan kecil seperti dzikir, sillaturahmi, bermuka manis, menebar salam dan semacamnya. Sang penulis buku ini, Fahrudin, berusaha menuliskan dari berbagai rujukan yang ia peroleh mengenai amalan-amalan apa saja yang diremehkan banyak orang saat ini namun justru memiliki nilai yang besar.
Mari kita belajar untuk tidak meremehkan amal kebaikan sekecil apapun itu. Kita tahu segala unsur kehidupan terdiri dari atom-atom yang sangat kecil. Embrio manusia yang kelak tumbuh menjadi manusia seutuhnya adalah berasal dari gabungan sel, ovum dan sperma. Kita tahu pula bahwa sel tersebut sangatlah kecil bahkan tak mampu kita lihat dengan mata telanjang. Pakaian pun tersusun atas helai demi helai benang yang tipis. Maka, tidak seharusnya kita meremehkan sesuatu hal yang bentuk dan sifatnya kecil. Kecil di mata manusia belum tentu bernilai kecil di hadapan Allah SWT.
Buku berjudul “Memungut Amalan Recehan” ini mengajak kita untuk lebih menghargai amalan-amalan sederhana yang sering kita jumpai di masyarakat akan tetapi cenderung diremehkan. Bisa jadi penyepelean ini disebabkan karena amalan tersebut sekedar sunnah atau fardlu kifayah, yang tidak berdosa bila ditinggalkan, padahal sejatinya tidak. Banyak amalan yang merupakan perintah Allah yang harus dipenuhi, tetapi ditinggalkan dan diremehkan oleh manusia. Jika sudah begitu, tentunya manusia itu sendiri yang merugi. Oleh karena itu, tidaklah pantas bagi manusia untuk mengesampingkan amalan yang dijumpainya agar menjadi kebajikan yang sangat berguna bagi kehidupannya. Terkait hal ini, Imam Ghazali memberikan petuah dalam kitab Ihya Ulumuddin, sebagaimana berikut: Janganlah kamu menghina ketaatan sekecil apapun hingga membuat kamu tidak mengerjakannya, dan kemaksiatan sekecil apa pun hingga membuat kamu tidak meninggalkannya. Misalnya, wanita pemintal yang malas untuk memintal benang, karena ia hanya mampu mengerjakan satu benang saja dalam satu jam. Dan, ia berkata,”Apa manfaatnya satu benang itu? Dan, kapanakan dapat menghasilkan satu baju? Ia tidak menyadari bahwa seluruh baju di dunia ini diciptakan dari satu benang dengan benang yang lainnya, dan seluruh dunia yang luas ini disusun dari atom-atom kecil.
Melalui buku ini kita belajar menjadi lebih dewasa dan bijaksana. Bahwasanya menjadi bijak itu bukan selalu mengeluarkan kalimat yang indah dan bermakna, melainkan orang dapat meraih sebanyak mungkin sarana yang bisa mendatangkan keridhaan Allah SWT yang berserakan di sekelilingnya. Inilah pertanda sebenarnya bahwa seseorang telah bijak memperlakukan kesempatan yang menghampirinya. Tidak ada salahnya memungut amalan, yang oleh banyak orang dianggap kecil dan tidak berarti, bila akhirnya yang dianggap kecil tersebut justru bisa mendatangkan keberuntungan yang berlipat.