Resensi Buku "Ungkapan Hikmah"

5:44 PM 0 Comments A+ a-





Judul buku      : Ungkapan Hikmah
Penulis             : Komaruddin Hidayat
Penerbit           : Noura books (PT Mizan Publika)
Tahun Terbit    : Cetakan 1, Maret 2013
Tebal buku      : 376 halaman

Tak banyak orang yang hidup di dunia ini mampu menangkap hikmah atau meresapi makna kehidupannya. Justru lebih banyak orang yang hanya hidup sekedarnya, tak memberi arti banyak bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Miris, padahal hidup ini hanya sekali, sayang rasanya apabila yang sekali tersebut justru disia-siakan atau tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Buku ini adalah salah satu buku yang akan membuka mata kita untuk menangkap makna. Salah satu buku yang patut dijadikan rekomendasi diantara buku-buku lainnya dengan tema senada. Buku ini bukan merupakan hikmah yang berpretensi menggurui pembaca, tidak sama sekali! Tidak pula hasil kontemplasi yang mendalam untuk menyampaikan kebenaran guna memecahkan masalah kehidupan. Justru buku ini terbit tak lebih sebagai koleksi catatan-catatan berserakan dan bercecer dari pesan dan obrolan singkat melalui sms (short message service) dari handphone sang penulis.
Buku ini terdiri dari 12 bagian, mulai dari bagian pertama yakni menyapa semesta dengan cinta hingga bagian kedua belas yakni hening dalam keramaian. Buku ini menjadi semakin menarik tatkala ada beberapa kalimat yang mengutip ayat-ayat Al-Quran. Ada beberapa ungkapan hikmah yang diambil dari bacaan yang sudah populer namun itu diuraikan lagi oleh penulis dengan bahasanya sendiri yang unik dan komunikatif. Diksi atau pilihan kata yang pas menjadi salah satu keunggulan gaya penulisan sang penulis buku ini.
Sang penulis buku ini yang juga menjabat sebagai rektor UIN Syarif Hidayatullah memang telah menerbitkan banyak tulisan. Bahkan sebagian bukunya menjadi best seller, beberapa buku karyanya antara lain, Psikologi Kematian, Psikologi Kematian 2, Agama Seribu Nyawa, dan Spiritual Golf.
Akhir kata, inilah salah satu buku yang akan menjadikan kita lebih bisa memaknai kehidupan. Buku yang tak hanya sekedar bahan bacaan akan tetapi juga bisa menjadi bahan perenungan sekaligus motivasi untuk memperbaiki diri. Karena hidup hanya sekali, mari membuka mata untuk merajut makna.
Pelaut ulung adalah yang berani mengarungi luas samudra. Jika dirinya bimbang dan kehilangan arah, ia segera memandang bintang di langit sebagai petunjuk mata angin. Bagaimana dengan kita? Seberapa sering kita menatap bintang di hati agar arah dan jalan hidup kita senantiasa benar dan terjaga.