Resensi Novel "Daun Yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin"

17.09 0 Comments A+ a-




Judul buku      : Daun yang Jatuh Tak pernah Membenci Angin
Penulis             : Tere-Liye
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit    : September 2012 (Cetakan ketujuh)
Tebal Buku      : 264 halaman

Cinta adalah fitrah. Kadangkala, betapapun kita berusaha menolak rasa itu, tetap saja kehadirannya menyisakan kenangan yang begitu dalam. Cinta, bahkan ada pula yang tak mengenal usia, tak peduli betapapun jauhnya rentang antara seseorang dengan kekasihnya. Bahkan terkadang cinta tak peduli, kepada siapa ia menjatuhkan hati.
Seperti novel-novel garapan tere liye sebelumnya, novel ini tak kalah indah. Indah dengan diksi yang pas, ditulis oleh penulis berbakat, tere liye. Tak ayal, novel karyanya ini berhasil dicetak hingga tujuh kali di bulan september 2012, luar biasa. Sayangnya, dilihat dari ending cerita, kurang memuaskan, not happy ending story. Akan tetapi, novel ini mengajarkan kepada kita tentang realita cinta.
            Novel ini berkisah tentang seorang anak perempuan jalanan bernama Tania dengan seorang pemuda baik hati bernama Danar. Hubungan mereka tak lebih dari sekedar kakak adik, meski sejatinya mereka sama sekali tidak ada hubungan darah. Sapaan kakak adik tersebut muncul untuk mengakrabkan mereka, karena mereka telah terbiasa bersama, seperti keluarga sendiri. Pertemuan mereka pertama kali, yang menjadi kenangan terindah Tania, adalah ketika pemuda tersebut menolong Tania yang kakinya tertancap paku payung. Danar, sang pemuda tersebut tak hanya bertemu Tania dan keluarganya saat itu saja, ia menemuinya berkali kali. Berkali kali pula Danar banyak membantu keluarga Tania yang serba papa.
Bagi Tania, Danar seperti membawanya pada janji kehidupan yang lebih baik. Bagi Tania, Danar selalu menjadi inspirasi baginya. Dan, bagi Tania, Danar adalah sosok “malaikat” dalam hidupnya, meski ia tak sempurna.
Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberika makan, tempat berteduh, sekolah dan janji masa depan yang lebih baik.
Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini.
Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku dikepang dua.
Sekarang, ketika aku tahu dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah...Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai duan...daun yang tidak pernah membenci angin meski harus terenggutkan dari tangkai pohonnya.