Resensi Novel "Negeri Di Ujung Tanduk"

8:12 PM 0 Comments A+ a-





Judul Buku      : Negeri di Ujung Tanduk
Penulis             : Tere Liye
Penerbit           : PT.Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit    : April 2013 (Cetakan ke II)
Tebal Buku      : 359 halaman

Novel petualangan seru ini adalah sekuel dari novel “Negeri Para Bedebah”. Novel ini adalah seri keduanya. Sehingga tak jauh berbeda dari novel sebelumnya, kisah berbau politik dan hukum. Tentu saja, novel ini adalah lanjutan dari kisah yang ada di novel seri pertamanya, masih tentang si Thomas, seorang konsultan keuangan yang mencoba membuka tabir kasus mafia hukum di negerinya.
Pembaca tentu sudah tak asing dengan seorang penulis dengan nama pena, tere-liye. Tere-liye sudah cukup populer mengeluarkan karya-karya berupa novel fiksi yang sangat mengagumkan. Pilihan kata yang dipakainya luar biasa, menginspirasi pembaca. Seperti ada ciri khas tersendiri, yang membedakan novel karangan tere-liye dengan penulis yang lain, istimewa. Dan lebih istimewanya lagi adalah novel sekuel ini, untuk pertama kalinya novel tere liye tidak berbicara tentang cinta dan semacanya, namun berbicara tentang politik, hukum, mafia dan semacamnya yang seolah rumit dimengerti orang-orang awam pada umumnya. Membaca novel ini, butuh perhatian ekstra, karena kehidupan di dalam kisah novel ini adalah kehidupan yang tidak biasa dicecap orang awam, kehidupan kaum elite. Membaca novel ini seolah kita ikut masuk di dalam kehidupan tokoh utama yang serba sibuk. Saking sibuknya, untuk memenangkan pertarungan kancah politik, setiap detiknya adalah berharga.
Di negeri di ujung tanduk kehidupan semakin rusak, bukan karena orang jahat semakin banyak, tapi semakin banyak orang yang memilih tidak peduli lagi. Di negeri di ujung tanduk, para penipu menjadi pemimpin, para pengkhianat menjadi pujaan, bukan karena tidak ada lagi yang memiliki teladan, tapi mereka memutuskan menutup mata dan memilih hidup bahagia sendirian. Tapi di negeri di ujung tanduk, setidaknya, kawan, seorang petarung sejati akan memilih jalan suci, meski habis seluruh darah di badan, menguap segenap air mata, dia akan berdiri paling akhir, demi membela kehormatan.