Resensi Novel "Rose"

05.56 0 Comments A+ a-




Judul Buku      : Rose
Penulis             : Sinta Yudisia
Penerbit           : Afra Publishing (Kelompok penerbit Indiva)
Tahun Terbit    : Rajab 1433 H/ Juni 2012 (Cetakan II)
Tebal Buku      : 320 halaman

Tak banyak novel yang menceritakan tentang kehidupan sederhana sebuah keluarga. Dan novel berjudul “Rose” ini adalah salah satunya. Novel karya Sinta Yudisia ini mengajarkan kita banyak hal terutama makna sebuah keluarga. Banyak hikmah kehidupan baik secara tersirat maupun tersurat yang ada di dalam novel ini. Novel terbaik untuk memahami kesederhanaan, kasih sayang keluarga, pengorbanan seorang kakak kepada adik-adiknya, serta belajar untuk ikhlas menghadapi ujian kehidupan dengan tabah dan tetap tersenyum.
Mawar, tokoh utama di dalam novel ini adalah seorang anak perempuan yang berbeda di antara anak-anak Mama lainnya. Ketiga saudara perempuannya, Mbak Dahlia, Cempaka dan adik bungsunya, Melati, adalah sosok perempuan yang feminim. Sedangkan Mawar sendiri adalah gadis tomboy yang jago karate dan memiliki hobi mendaki gunung. Meskipun terkenal blak-blakan dan berwatak keras, Mawar adalah gadis yang jujur dan memiliki harga diri yang tinggi.
Keempat anak Mama atau Bu Kusuma adalah harta yang berharga miliknya setelah suaminya meninggal. Kepergian sang Ayah (suami Bu Kusuma) yang menjadi tulang punggung sekaligus pemimpin keluarga mengubah kehidupan mereka seratus delapan puluh derajat. Konflik demi konflik mulai bermunculan dalam keluarga mereka hingga menuntut pengorbanan yang luar biasa.
Si Sulung, Mbak Dahlia, dengan terpaksa bekerja menggantikan posisi sang Ayah karena Mamanya sedang sakit. Jadilah ia kemudian menjadi tulang punggung keluarga. Mawar membantu berjualan dan Cempaka menjadi penyiar radio. Hanya si bungsu, melati yang berhasil dengan kuliahnya di kedokteran, ia menjadi kebanggan keluarga.
Hubungan Mawar dan Cempaka bagaikan Tom dan Jerry, selalu berseteru. Hal itulah yang terkadang membuat Mama pusing menghadapi kedua anaknya yang tidak pernah rukun tersebut. Puncaknya Cempaka, gadis yang paling cantik di keluarga tersebut, memilih untuk tinggal di kos karena merasa sudah tak betah tinggal di rumah itu. Keputusan Cempaka tersebut justru menjadi awal mula petaka yang kemudian merenggut kehormatannya. Jauh dari keluarga membuatnya bebas sekaligus tak ada sosok yang akan melindunginya kecuali dirinya sendiri. Namun sayang, Cempaka tak bisa menjaga diri, ia dihamili oleh pacarnya, Fian, lalu ditinggal pergi. Sakit, sesak, itulah yang ia rasakan, ia benar-benar merasa terbuang. Rasa dendam tersebut ia curahkan kepada bayi yang dikandungnya, hampir saja ia mengugurkan kandungan kalau saja tak dicegah Mawar. Setelah bayi yang dikandung Cempaka lahir, Mawarlah yang mengurusnya, bahkan Cempaka menyuruh Mawar beperan sebagai ibu untuk bayinya tersebut. Itulah kebohongan yang berbuntut kebohongan lain di kemudian hari. Cempaka meninggalkan masa lalunya dan pindah ke jakarta, ia menikah dengan Andi, partner kerjanya dan mengaku bahwa saat dinikahi tersebut ia masih gadis. Cempaka benar-benar tak mau mengakui bayinya. Konflik muncul ketika Andi menginginkan seorang anak, namun Cempaka saat itu belum bisa memberikannya. Keluarga Andi mengira,Cempaka mandul. Lalu, bagaimanakah kehidupan Cempaka selanjutnya? Juga akankah pengorbanan Mawar untuk membesarkan anak dari Cempaka mendapatkan balasan yang indah?
Akhir kata, novel ini mengajarkan kita untuk bersabar dan bersyukur tentang realita kehidupan yang kita jalani. Karena memang hidup di dunia ini tidak ada yang namanya live happily ever after, yang ada hanyalah bagaimana kita melewati hari demi hari dengan mensyukuri segala karunia yang diberikan olehNya