Resensi Novel "Sunset Bersama Rosie"

06.11 0 Comments A+ a-





Judul Buku      : Sunset Bersama Rosie
Penulis             : Tere Liye
Penerbit           : Mahaka (Imprint Republika penerbit)
Tahun terbit     : April 2013 (Cetakan V)
Tebal buku      : 426 halaman

Banyak hal di dunia ini yang begitu abstrak, susah dijelaskan. Sebut saja perasaan, keinginan, kesempatan, dan pengorbanan. Hal-hal abstrak tersebut terkadang menimbukan pertanyaan baru semisal apakah pengorbanan memiliki harga dan batasan? Atau priceless, tidak terbeli dengan uang, karena kita lakukan hanya untuk sesuatu yang amat spesial di waktu yang juga spesial? Atau boleh juga gratis karena kita lakukan saja dan selalu menyenangkan untuk dilakukan berkali-kali.
Dalam hidup ini, ada banyak sekali pertanyaan tentang perasaan yang tidak terjawab. Sayangnya novel ini juga tidak bisa memberikan jawaban pasti atas pertanyaan-pertanyaan itu. Novel ini ditulis hanya untuk menyediakan pengertian yang berbeda melalui kisah keluarga yang hebat di pantai yang elok. Novel yang membuat kita memiliki pemahaman yang baru mengenai pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Satu kata untuk novel ini, Marvelous! Lagi-lagi Tere Liye berhasil mengukir kisah indah dalam novelnya yang berjudul Sunset bersama Rosie. Dengan kemampuannya merangkai kata, Tere Liye menyelipkan peristiwa Bom Bali di dalam novelnya ini. Novel karyanya selalu saja penuh dengan inspirasi. Novel ini banyak mengandung hikmah tentang sejuta rasa yang berkelindan di dalam kehidupan. Novel ini tak hanya sekedar kisah cinta picisan. Akan tetapi novel ini membawa kita untuk memahami hakikat cinta dan kesempatan dengan pemahaman baru yang bijak.
Berkisah tentang persahabatan antara Rosie dan Tegar. Persahabatan yang berbuntut timbulnya perasaan yang berbunga di hati Tegar. Tegar, seperti namanya, ia begitu tegar, bagaikan berdiri tegak di atas karang. Berbagai ujian gelombang kehidupan menerpanya, namun ia tetap Tegar. Tegar begitu dalam mencintai Rosie, sahabatnya, namun ia tak pernah mengatakan perasaan itu, sekalipun. Tegar memilih menunggu selama dua puluh tahun memendam perasaan itu. Hingga pada akhirnya tepat di atas puncak Gunung Rinjani, sambil menikmati sunset, Tegar membawa bunga Edelweis hendak menyatakan cinta pada Rosie saat itu juga. Terlambat ternyata sesaat sebelum Tegar menemui Rosie, Nathan terlebih dahulu menyatakan cintanya pada Rosie. Mirisnya, karena terpesona dengan Nathan, Rosie menyambut cinta itu sampai akhirnya mereka menikah. Sakit, sesak itulah yang dirasakan Tegar. Dua puluh tahun penantiannya terasa sia-sia. Lalu, bagaimana kemudian akhir dari kisah cinta Tegar? Apakah Tegar berhasil menghapus masa lalunya ? temukan jawabannya di dalam novel ini.