Resensi Novel "Rinai"

06.42 0 Comments A+ a-




Judul Buku      : Rinai
Penulis             : Sinta Yudisia
Penerbit           : GIZONE BOOKs (Kelompok Penerbit INDIVA)
Tahun terbit     : Syawal 1433 H/ September 2012
Tebal buku      : 400 halaman

Bagaimana kiranya kehidupan penduduk gaza ditengah kondisi peperangan antara mereka dengan israel? Apakah seperti yang diberitakan di berbagai media? Kondisi mengenaskan kehilangan fisik, keluarga, harta, benda. Apakah kondisi psikis mereka juga ikut terganggu?
Inilah sebuah novel yang kiranya akan menjawab semua pertanyaan itu. Sebuah novel yang menggugah jiwa tentang bagaimana perjalanan sebuah tim relawan menembus gaza Palestina. Tentang intrik-intrik internal tim relawan, rahasia anak-anak dan warga gaza, juga tentang bunga-bunga cinta yang tumbuh mekar. Cinta yang tak harus memiliki, tapi terus harum mewangi.
Rinai adalah novel yang ditulis selama dua bulan, dengan referensi yang dikumpulkan lebih dari satu tahun begitu ungkap penulis. Rinai juga merupakan tulisan istimewa yang merekam jejak keindahan negeri Gaza, Palestina hasil perenungan selama lima hari di Khan Younis, Gaza.
Ini bukan sekedar novel biasa. Novel ini adalah karya luar biasa dari Sinta Yudisia. Salah seorang penulis kenamaan jebolan dari Forum Lingkar Pena. Ditangan sang penulis, hasil refleksi pengalaman penulis beserta tim relawan dirangkai menjadi sebuah novel fiksi yang kaya hikmah. Hikmah tentang kehilangan, menjaga diri, tenggang rasa dan beragam hikmah lainnya.
Rinai Hujan diceritakan adalah seorang gadis dari keturunan jawa ningrat yang menjunjung tinggi budaya sopan santun khas jawa tulen. Bunda Rafika, ibunya, awalnya merupakan sosok gambaran wanita yang nyaris sempurna. Hingga lambat laun, apalagi setelah Rinai menginjak bangku kuliah dan berpisah jauh dari ibunya, ia mulai menyadari bahwa ibunya terlalu rapuh, bukan lagi menjadi sosok idola baginya.
Rinai berkelana mencari jati diri, ia bimbang, jika bukan Bundanya lalu siapakah sosok wanita ideal yang bisa dijadikan panutannya? Rinai bertemu dengan banyak orang, ia banyak mengalah, menahan diri, diam dan memendam erat perasaannya dalam-dalam. Kebimbangannya tentang hidupnya bertambah pelik tatkala ia selalu dihantui mimpi aneh tentang ular. Hampir setiap malam, mimpinya adalah tentang hewan melata tersebut. Pertanda apakah itu? Apakah benar tafsir mimpi ala psikologi barat bahwasanya bermimpi tentang ular berarti mengalami gangguan orientasi seksual?
Perjalanan Rinai di kemudian hari membawanya ke sebuah tempat yang mencekam namun disitulah ia menemukan jati dirinya dan jawaban-jawaban atas hidupnya pula jawaban dari mimpi tentang ularnya. Warga gaza terutama Hazem, bocah kecil hafal quran membuat Rinai tersadar akan arti menjaga diri.