Mengejar Jejak Helvy Tiana Rosa

04.08 1 Comments A+ a-

Sejak kecil aku memang sudah gemar membaca. Mungkin saja hal itu disebabkan karena orangtuaku baik bapak maupun ibu juga hobi membaca. Sampai kemudian hobiku bertambah sejak ibu memberi hadiah buku harian di hari ulangtahunku sewaktu SD. Tak hanya membaca, sejak saat itu aku mulai gemar menulis. Menulis buku harian tentunya.
Waktu berjalan, hobi menulisku mulai terhenti ketika SMP. Jenuh dan tak ada motivasi membuatku enggan untuk menulis lagi. Hingga menginjak SMA, impian untuk menjadi seorang penulis mulai muncul lagi. Aku memutuskan untuk bergabung dengan komunitas penulis pelajar SMART SYUHADA di kelas 1 SMA. Darisana aku mulai belajar banyak hal tentang kepenulisan salah satunya bahwa jenis tulisan itu terbagi dua: fiksi dan non fiksi. Aku masuk ke kelas fiksi karena memang aku menyukai kisah-kisah fiktif seperti novel, cerpen, puisi, dan sebagainya.
Motivasiku untuk menjadi penulis bertambah ketika membaca biografi Helvy Tiana Rosa di suatu majalah. Pencapaian beliau adalah visiku sejak dahulu, aku banget. Pertama, beliau berhasil meraih penghargaan dari Harian Republika sebagai “Pelopor Fiksi Islami Kontemperor Indonesia”, tak hanya itu, Koran Tempo bahkan menyebutnya “Lokomotif Penulis Muda Indonesia, Luar biasa! Karya-karyanya yang kebanyakan berupa fiksi banyak digemari pembaca. Kedua, beliau adalah seorang pendidik. Bunda Helvy adalah seorang dosen di Jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Sama halnya dengan beliau, aku dari dahulu ingin menjadi seorang pendidik. Bukan dosen tapi guru. Aku telah menggantungkan cita-citaku menjadi guru sejak SD. Inilah alasan kenapa aku sekarang melanjutkan kuliah di Jurusan Pendidikan Geografi.
Di bawah ini adalah hal-hal yang mnginspirasi hidupku dari Bunda Helvy, apa itu? Simak baik-baik, semoga bisa menginspirasi kalian juga...

  • 1.      Tekad Menulis Sekeras Baja
Helvy gemar membaca sejak SD, bahkan di kelas 3 SD karyanya sudah dipublikasikan ke media massa. Kemampuan menulisnya itu diperoleh karena kegemarannya membaca dan menulis. Menurut Helvy, peran bakat dalam menulis itu hanya sekitar 10 persen, selebihnya yang 90 persennya lagi adalah tekad dan latihan. Pada awal mula ia merancang karir sebagai penulis, banyak karyanya yang ditolak oleh berbagai media massa. Akan tetapi ia tak patah arang. Ia revisi tulisannya dan terus diperbaiki hingga penerbit mau memuat karyanya. Penolakan dari para penerbit tak menyurutkan tekad dan semangatnya untuk terus menulis dan belajar tentang kepenulisan. Sampai pada puncak karir menulisnya, ia banyak menjuarai berbagai lomba kepenulisan mulai dari lomba puisi, cerpen, essai dan sebagainya.
Semenjak mengikuti komunitas penulis pelajar, saat itu pula aku memupuk tekad yang besar untuk menjadi seorang penulis. Latihan menulis yang kulakukan adalah dengan menulis buku harian dan menulis di blog. Alhamdulillah, beberapa tulisanku sudah dimuat di buku antologi penerbit asyrifa, sebuah artikel refleksi yang dimuat di majalah Al-haromain dan menjuarai LKTI Pendidikan Luar Biasa tahun 2014 ini. Memang jalanku masih panjang, akan tetapi aku tidak mau menyerah. Pokoknya selalu semangat untuk merangkai karya.

  • 2.      Menulis untuk Memberi Kebermanfaatan Bagi Orang Lain
Bagi Bunda Helvy, setiap pekerjaan apapun itu harus memiliki tujuan yang jelas dan terarah. Karena dengan demikian, pekerjaan itu akan membawa efek yang besar dan berisi. Menulis ia niatkan untuk mencerahkan orang lain, dan harus bisa membuat orang lain bergerak. Tetapi bukan orang lain saja yang lebih utama penulis itu sendiri. Bunda Helvy mengaku banyak karyanya yang membuat pembacanya termotivasi untuk mengamalkan nilai-nilai islam.
Sama dengan Bunda Helvy, aku ingin menulis untuk memotivasi orang lain.  Jadi tidak sembarangan menulis. Maka dari itu dalam setiap lomba kepenulisan yang ada aku pilah-pilih terlebih dahulu. Pun setiap tulisan selalu aku niatkan untuk mengajak kepada kebaikan. Tulisan yang memuat hikmah di dalamnya. Prestasi yang terbesar bukanlah ketika menjuarai lomba tingkat Internasional, prestasi terbesar justru ketika kita berbagi kepada orang lain, dan orang lain pun merasakan kebermanfaatan itu. Ingat pesan Rasul, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

  • 3.      Buatlah Tulisan yang Dapat dipertanggungjawabkan
Bunda Helvy berkata,” Setiap karya tulis itu harus dipertanggungjawabkan  dari mulai niat membuatnya sampai karya itu dilempar ke publik bahkan sampai pengarang itu meninggal. Jadi, walaupun sudah dilempar ke publik itu tetap karya penulis yang bersangkutan, yang setiap hurufnya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Bagi saya seperti itu sehingga saya berusah amenulis yang bisa mendatangkan manfaat bagi orang lain, jangan sampai tulisan saya merusak suatu masyarakat.
Sebisa mungkin, saya berusaha menulis dengan jujur sehingga tulisan saya merupakan suatu karya yang dapat dipertanggungjawabkan. Awalnya mungkin susah, harus benar-sebanr sesuai dengan data atau fakta. Akan tetapi balik lagi ke niat awal kita menulis, sebenarnya menulis itu untuk apa sih? Jangan hanya sekedar mengejar materi saja,kalau saya menulis diniatkan untuk berdakwah. Dakwah dengan pena.


  • 4.      Ambil Peluang
Pesan tersirat dari jejak kehidupan Bunda helvy adalah bahwa beliau selalu memanfaatkan peluang dan kesempatan yang mampir dalam kehidupannya itu dengan sebaik-baiknya. Percepat apa yang bisa dilakukan dengan cepat. Bunda Helvy terkenal sebagai aktivis namun beliau masih menyisakan waktu untuk membuat tulisan yang berkualitas. Ia pernah menjadi Ketua Departemen Litbang Yayasan Prakarsa Insan mandiri ( 1997-2002), Litbang Senat Mahasiswa UI (1994-1995), dan sebagainya. Kini diusianya yang kepala empat, ia menjabat sebagai Direktur Lingkar pena Publishing House, Anggota Majelis Sastra Asia Tenggara, Wakil Ketua Persatuan Sastrawan Muslim Sedunia dan lain-lain.

  • 5.      Be Creative!
Bunda Helvy hampir tak pernah membuat kerangka tulisan ketika mulai menulis. Alasannya sederhana, capek. Dan beliau berpesan bagi seorang penulis yang sudah mahir menulis, alangkah lebih baik jika tidak usah membuta kerangka tulisan. Tulislah segera apa yang ingin kita tulis.
Dalam hal menulis cerpen dan puisi, saya memang biasanya langsung menulis apa yang ingin saya tulis. Dan memang benar, di tengah perjalanan menulis, imajinasi liar saya mengiringi tulisan saya seketika itu juga. Tetapi tips ini tidak disarankan ketika menulis Karya Tulis Ilmiah lhoo, kan harus ada sistematikanya :p
Lewat karya-karya besar beliau dan motivasi beliau di berbagai kesempatan.  Banyak pembaca yang tergerak untuk menulis sepertinya, berjuang melukis peradaban melalui sastra. Dunia pun memberikan apresiasi pada penulis inspiratif ini diantaranya Penghargaan Perempuan Indonesia Berprestasi dari Tabloid Nova dan Menteri Pemberdayaan Perempuan RI (2004),  Wanita Indonesia Inspiratif versi Tablid Wanita Indonesia (2008) dan masih banyak lagi.

Masya Allah, semoga kita dapat mengejar jejak beliau, meneladani semangat beliau untuk mengeluarkan karya-karya yang dapat memotivasi orang lain untuk berbuat kebaikan. Semangat mengukir peradaban!


Tulisan ini diikutsertakan pada Lomba Menulis Artikel Lomba Blog Periode 1-2015

1 komentar:

Write komentar
Amir mahmud
AUTHOR
1 Februari 2015 01.55 delete

Saya tau juga Mbak Helvy, dia penulis yang hebat, saya juga ingin jadi seperti dia http://amir-silangit.blogspot.com/2015/02/inspirasiku-joko-susilo-dan-jonru.html

Reply
avatar