Ramadhan ke-4: CINTA?

15.43 0 Comments A+ a-



Jika geografi berbicara tentang cinta, maka...
kata geomorfologi, mencintai dan dicintai akan selalu meninggalkan jejak-jejak tertentu pada lahan hati. Proses penjajakan hati yang salah tempat akan membuat hati sang korban tererosi lalu mengendapkan penyesalan di kemudian hari. Namun kenyataan bahwa  kisah percintaan yang kompleks lebih umum dijumpai daripada yang sederhana
kata  penginderaan jauh,  mencintai bisa terjadi tanpa harus dilakukan kontak fisik. Menjauh bukan karena benci tetapi justru karena ingin menjaga hati dari khalwat yang menjebak.
Kata kartografi,  cintailah tanpa perbandingan, tak peduli meski keadaan yang ada di depan mata ada perbedaan dengan keadaan yang sebenarnya. Karena cinta  pada makhluk Allah adalah penerimaan yang tulus tanpa menuntut kesempurnaan. Kesempurnaan cinta hanya untuk Dia Yang Maha Sempurna.
Kata  geologi  ketahuilah, kalau lapisan kulit rasa itu dinamis, kadang terjadi tumbukan atau keadaan membuat jarak semakin menjauh.  Maka, komitmen  adalah hal terpenting yang akan menguatkan cinta itu sendiri, cinta bertahan karena ada rasa saling percaya.
Kata Prinsip  geografi,  Sang Maha Cinta akan meng-interelasikan seorang pecinta dengan jodohnya karena kecocokan jiwa bukan datang dari pendekatan yang begitu lama, dengan pen-deskripsi-an bahwa laki-laki yang baik untuk wanita yang baik, begitu pula sebaliknya. Distribusi manusia yang tidak merata tak akan menjadi penghalang, karena betapapun besarnya rintangan yang menghalangi jalannya cinta, ketetapan Allah diatas segalanya. Cinta sejati akan selalu kembali kepada pemilik hati.
Lalu, sesepuh geografi dasar menambahkan...
Jika cinta adalah geografi maka mengenalnya adalah mengenal ayat-ayat cinta dari Sang Maha Cinta, yang ada di alam dunia ini. Hingga bermuaralah cinta dalam satu pusaran tertinggi yaitu cinta kepada-Nya. Cinta yang membebaskan kita dari keterikatan apapun, terhadap siapapun. Tak peduli bagaimana penilaian orang tentangmu. Kau percaya, Dia tak menilai fenomena fisikmu, status sosial, atau apa-apa yang hanya tampak oleh mata. Namun, sungguh, Dia mampu melihat ketulusan hatimu. Dia lah Allah, yang Maha penyayang diantara para penyayang. Dia yang akan selalu memberikan cinta untukmu betapapun kau telah membuat-Nya cemburu. Cinta-Nya adalah hidayah yang dengannya kau tahu kebebasan yang hakiki.
Cinta yang sederhana.
Sesederhana cintaNya yang berujung syurga.
Alay ya? Maaf lho, intinya apa?
Cinta itu ada BANYAK, dimana-mana. Cinta untuk orangtua, sahabat, saudara. Tinggal bagaimana cara kita memprioritaskan, menempatkan cinta itu pada tempatnya masing-masing, nah ini yang sering jadi masalah. Maka, dibulan ramadhan ini, semoga-semoga Allah membersihkan hati kita dari menduakan cintaNya. Terimakasih Allah telah membuatku tersadar akhir-akhir ini, bahwa di atas segala cinta, tingkatan yang pertama tentu saja untuk Engkau, Sang Maha Cinta; kedua untuk kekasihMu, Muhammad; ketiga untuk orangtua especially Ibuk, baru setelah itu untuk yang laen-laen.