Hijrah

6:21 AM 0 Comments A+ a-



Selepas masa putih abu-abu berlalu, aku memutuskan merantau ke jogja. Sederhana sekali alasannya, karena sahabatku juga ingin pergi kesana. Dila namanya bukan Dilan ya. Dilan perempuan manis asli Purworejo. Dila semangat sekali jika bercerita tentang jogja.
“Ay, kamu harus tahu ya. Jogja itu keren banget. Dulu aku pertama kali kesana diajak kakakku. Kakakku yang kuliah di UGM itu. Tau nggak? Jogja itu samudera ilmu. Banyak seminar disana-sini, komunitas seru, kajian-kajian ilmu. Pokoknya aku mau ke sana deh. Ikut yok, Ay.”
“Hm, emang kamu mau masuk jurusan apa?”
“Kalau pilihan pertama sih pengennya pendidikan geografi Ay. Suka banget pelajaran itu. Kalau kamu gimana?”
“Yah kita nggak sekampus donk. Aku nggak minat di pendidikan ih, aku passionnya ke psikologi. Pengen nyoba di psikologi UGM.”
“Oh nggak papa Ay yang penting kita bareng-bareng ke jogja, biar bisa sering ketemu.”
Jadi selepas percakapan di sore itu, aku semakin memantapkan hati untuk ke Jogja. Beruntungnya orangtuaku pun mendukung, supaya latihan mandiri katanya. Belajar jauh dari orangtua.
 ***
Setahun pertama menjalani hidup sebagai mahasiswa di kota pelajar ini rasanya sibuk sekali. Tak hanya kuliah, aktivitasku juga merambah ke organisasi. Himpunan mahasiswa psikologi dan badan eksekutif mahasiswa telah membuatku betah berlama-lama di kampus. Hal itu mau tak mau pertemuanku dengan Dila semakin terbatas. Tak hanya aku yang sibuk, Dila juga. Tetapi dia bukan aktif di organisasi Hima atau BEM sepertiku, dia aktif di lembaga dakwah kampus. Dia berbeda sekali dengan Dila yang kukenal dulu. Aku rindu.
Sempat kudengar kabar bahwa Dila baru saja putus dari pacarnya. Alasannya karena ingin berhijrah. Aku benar-benar tak mengerti dengan perubahannya. Dila yang dulunya modis, gaul sama siapa saja. Bahkan sekarang terlihat membatasi pergaulannya dengan lawan jenis. Tak hanya memutuskan pacarnya. Dia bahkan juga tak mau bersalaman dengan lelaki. Aku tak mengerti sikapnya sampai suatu ketika aku dan Dila tak sengaja bertemu di warung stik di dekat kampusnya, taman kuliner UNY.
“Dil kok kamu berubah sih? Nggak kaya Dila yang kukenal waktu SMA dulu.”
“Berubah gimana sih? Biasa aja kok, masih sama kayak dulu.
“Ih kamu berubah Dil. Lihat deh tampilanmu sekarang, pake jilbab gede banget, pake gamis. Sikapmu juga lebih kalem sekarang. Kamu kenapa sih kok bisa kayak gini?” tanyaku penasaran
“Oh itu. Aku memutuskan hijrah Ay. Semenjak ikut tutorial pendidikan agama islam di kampusku, UNY. Banyak sekali pencerahan yang kuperoleh dari kakak tutorku. Beliau banyak menjelaskan tentang indahnya islam, bahwa beragama itu nggak Cuma tentang beribadah tetapi juga menjalankan syariat dalam agama itu di setiap sendi kehidupan. Tak hanya itu aku jadi lebih sering ikut kajian-kajian agama sampai akhirnya seperti sekarang ini. Aku bersyukur mengetahui islam lebih dalam membuatku lebih terjaga dan hati menjadi lebih tenang.”
Obrolanku dengan Dila tak berhenti disitu masih tetap berlanjut sampai dua jam kemudian. Asyik sekali temu kangen dengan kawan lama. Dila bahkan mengajakku untuk ikut tutorial agama sepertinya.